- Advertisement -spot_img
HomeNasionalNulla Osta dari Vatikan untuk Proses Beatifikasi Mgr. Gabriel Yohare Wiihelmus Manek

Nulla Osta dari Vatikan untuk Proses Beatifikasi Mgr. Gabriel Yohare Wiihelmus Manek

- Advertisement -spot_img


ASKARA – Kabar sukacita datang dari Kongregasi Putri Reinha Rosari (PRR), Larantuka, Nusa Tenggara Timur yang mengumuman tentang pembukaan proses beatifikasi Mgr. Gabriel Manek secara Yurisdiksi.

Beatifikasi, dalam Gereja Katolik Roma, merupakan tahap kedua dari tiga tahap dalam proses kanonisasi. Dalam beatifikasi, orang yang meninggal dinyatakan “Diberkati” dan layak mendapat penghormatan publik yang terbatas.

Orang yang dibeatifikasi kemudian dapat melanjutkan jalan menuju kesucian . Tahap terakhir, yang berpuncak pada kanonisasi dan pemberian gelar “Santo” pada dasarnya sama dengan beatifikasi, namun setidaknya satu mukjizat terverifikasi yang diperoleh melalui doa setelah beatifikasi harus terjadi sebelum alasan kanonisasi dapat diperkenalkan.

Dalam surat bernomor PRR 321/E.2/X/2023, pertanggal 6 Oktober  2023 itu, Kongregasi Putri Reinha Rosari mengundang umat Katolik untuk menghadiri Misa Ekaristi Syukur dipimpin Uskup Keuskupan Larantuka, sekaligus pengumuman Pembukaan Proses Beatifikasi Hamba Allah, Mgr. Gabriel Yohare Wiihelmus Manek secara yurisdiksi, pengukuhan Tribunal yang akan bertugas dan pengangkatan sumpah, Presentasi Profil Hamba Allah Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek oleh Team Kerja Beatifikasi, pada hari Kamis (19/10) mendatang, pukul 16.00, di Kapel Mgr. Gabriel Manek, SVD РLebao Larantuka РNTT.

“Bersama ini kami hendak menyampaikan kabar Sukacita untuk Segenap Komunitas Sahabat Mgr. Gabriel Manek, SVD, bahwa Nulla Osta dari Vatikan yang selama ini didoakan dan dinantikan oleh kita semua telah tiba di tangan Bapak Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung,” kata Pemimpin Umum PRR, Suster M Gratiana, PRR yang dikutip, Minggu (8/10).¬†

Mgr. Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek, S.V.D. (Lay Tjong Sie) adalah Seorang Imam dan juga Uskup Indonesia. Beliau menjadi Uskup Pribumi Kedua di Indonesia setelah Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J.

Beliau menjabat sebagai Uskup Larantuka sebelum kemudian menjadi Uskup Agung Ende, hingga ia mengundurkan diri dan menjadi Uskup Agung Emeritus.

Lahir 18 nia pada 30 November 1989. Gabriel Manek dilahirkan sebagai anak laki-laki bungsu dari pasangan Yohanes Leki (Lay Phiang Sioe) dan Lioe Kioe Moy yang berdarah campuran Tionghoa.

Pada keesokan hari setelah kelahirannya, ia dipermandikan dengan nama Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek oleh R.P. Arnold Verstraelen, SVD.

Pada tahun 1920, Gabriel mulai menjalani pendidikan dasar (normalschool) di Halilulik, Standard School di Ndona dan dilanjutkan di schakelschool Ndao, Ende, Flores, lalu di Seminari Sikka tahun 1927.

Ia kemudian pindah ke Seminari Todabelu, Matoloko, Flores pada Juli 1928. Ia masuk novisiat S.V.D. pada 16 Oktober 1932 (ada yang menulis tahun 1933) dan sejak 17 Januari 1937 (ada juga yang menulis tahun 1936) ia berkuliah di Seminari Tinggi Ledalero, dan lulus sebagai angkatan pertama setelah mengucapkan kaul pertamanya.

Pada 15 Agustus 1940, ia mengucapkan kaul kekal sebagai anggota SVD di Seminari Tinggi SVD. Tepat satu bulan kemudian pada 15 September 1940, ia menerima tahbisan diakonat. Ia ditahbiskan sebagai imam pada 28 Januari 1941 oleh Mgr. Hendrikus Leven di Gereja Nita, Maumere.

Ia menjadi imam pribumi pertama di Nusa Tenggara Timur bersama dengan R.P. Karolus Kale Bale, SVD.

Kunci yang menjadi pokok perhatiannya adalah menyapa setiap umat secara personal, mengenal mereka; memperhatikan persoalan yang sedang dihadapi dan mencari upaya untuk meningkatkan kualitas iman umat.

Sebagai pastor pribumi pertama di Nusa Tenggara itu, Manek dikenal dermawan dan penuh perhatian kepada kaum papa. Dia kerap menggunakan sampan kecil untuk menyeberang ke pulau-pulau di luar Larantuka guna menyapa umatnya.

Dari Flores, ia kembali ke Timor dengan tugas khusus membuka dan memimpin Seminari Menengah St Maria Immakulata Lalian pada tahun 1950 bersama dengan Pastor Heinrich Janssen S.V.D.

Pada 8 Maret 1951 bersamaan dengan pendirian Vikariat Apostolik Larantuka, ia ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Larantuka dengan gelar Uskup Tituler Alinda. Hal ini membuat Manek sebagai uskup pribumi kedua setelah Albertus Soegijapranata, S.J. yang menjadi Vikaris Apostolik Semarang bergelar Uskup Tituler Danaba.

Ia ditahbiskan sebagai uskup pada 25 April 1951 oleh Penahbis Utama Mgr. Henricus Leven, Vikaris Apostolik Emeritus Kepulauan Sunda Kecil bergelar Uskup Tituler Arca di Armenia. Jacques Franciscus Maria Pessers, S.V.D. yang merupakan Vikaris Apostolik Atambua bergelar Uskup Tituler Candyba bersama dengan Soegijapranata, S.J. yang merupakan Vikaris Apostolik Semarang bergelar Uskup Tituler Danaba menjadi Uskup Penahbis Pendamping.

Pada 1954, Mgr. Gabriel Manek SVD mengadakan upacara penyerahan Keuskupan Larantuka kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Pada 15 Agustus 1958, ia mendirikan Tarekat Puteri Reinha Rosari (PRR), bersama dengan Sr. Anfrida SSpS. Pada 4 Juni 1959 bersama dengan Isabella Diaz Gonzales, Manek menjajaki kemungkinan berdirinya Rumah Sakit Kusta Lewoleba di Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Hal ini disusul dengan ditempatinya rumah Bernardus Weka Lejab yang dijadikan poliklinik sekaligus Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) empat hari berselang. Rumah Sakit tersebut kini dikenal sebagai Rumah Sakit Lepra Beato Damian Lewoleba.

Bersamaan dengan dipromulgasikannya Konstitusi Apostolik Qoud Christus Adorandus tentang berdirinya Hierarki Gereja Katolik di Indonesia secara mandiri oleh Paus Yohanes XXIII, ia “bertukar posisi” dengan Mgr. Antonius Hubertus Thijssen, S.V.D., di mana ia menjadi Uskup Agung Endeh, sementara Mgr. Thijssen menjadi Uskup Larantuka. Manek menghadiri tiga sesi pertama Konsili Vatikan II.

Mgr. Gabriel Manek SVD meninggal pada 30 November 1989 di RS Sint John, Lakewood, Denver, Amerika Serikat. Jenazahnya dimakamkan di Techny, Amerika Serikat pada 5 Desember 1989.

Upaya pengambilan Jenazah Almarhum Mgr. Gabriel Manek SVD telah dilakukan sejak 2005, dengan melakukan pendekatan kepada berbagai pihak terkait.

Makamnya kemudian digali kembali sejak 10 April 2007. Penggalian sempat dihentikan hingga akhirnya peti diangkat dan dibuka pada 14 April 2007. Jenazah dan juga peti matinya masih utuh meski sudah dikubur selama 17 tahun, walaupun tubuhnya tidak diawetkan.

Jenazah tiba di Kupang pada 18 April 2007.

Pada 25 April, Ulang Tahun Tahbisan Uskup ke-56, Jenazah Uskup dimakamkan kembali di Biara PRR.

Hingga kini, Jenazahnya disemayamkan dalam Kapela Induk di Biara Pusat tarekat PRR di Larantuka.

Kapel ini diberkati oleh Uskup Atambua, Dominikus Saku pada 15 Agustus 2012. Makam ini menjadi Objek Wisata Rohani di wilayah Larantuka.





Source link

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here